Tampilkan postingan dengan label Bahasa Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bahasa Indonesia. Tampilkan semua postingan

Tips : Memelihara Emosi


Memelihara Emosi
Emosi sangat memegang peranan penting dalam kehidupan individu, akan memberi warna kepada kepribadian, aktivitas serta penampilannya dan juga akan mempengaruhi kesejahteraan dan kesehatan mentalnya. Agar kesejahteraan dan kesehatan mental ini tetap terjaga, maka individu perlu melakukan beberapa usaha untuk memelihara emosi-emosinya yang konstruktif. Dengan merujuk pada pemikiran James C. Coleman (Nana Syaodih Sukmadinata, 2005), di bawah ini dikemukakan beberapa cara untuk memelihara emosi yang konstruktif.
  1. Bangkitkan rasa humor. Yang dimaksud rasa humor disini adalah rasa senang, rasa gembira, rasa optimisme. Seseorang yang memiliki rasa humor tidak akan mudah putus asa, ia akan bisa tertawa meskipun sedang menghadapi kesulitan.
  2. Peliharalah selalu emosi-emosi yang positif, jauhkanlah emosi negatif. Dengan selalu mengusahakan munculnya emosi positif, maka sedikit sekali kemungkinan individu akan mengalami emosi negatif. Kalaupun ia menghayati emosi negatif, tetapi diusahakan yang intensitasnya rendah, sehingga masih bernilai positif.
  3. Senatiasa berorientasi kepada kenyataan. Kehidupan individu memiliki titik tolak dan sasaran yang akan dicapai. Agar tidak bersifat negatif, sebaiknya individu selalu bertolak dari kenyataan, apa yang dimiliki dan bisa dikerjakan, dan ditujukan kepada pencapaian sesuatu tujuan yang nyata juga.
  4. Kurangi dan hilangkan emosi yang negatif. Apabila individu telah terlanjur menghadapi emosi yang negatif, segeralah berupaya untuk mengurangi dan menghilangkan emosi-emosi tersebut. Upaya tersebut dapat dilakukan melalui: pemahaman akan apa yang menimbulkan emosi tersebut, pengembangan pola-pola tindakan atau respons emosional, mengadakan pencurahan perasaan, dan pengikisan akan emosi-emosi yang kuat.

Cerita Rakyat Aceh : Banta Berensyah


Cerita Rakyat: Banta Berensyah
Cerita Rakyat Aceh Banta Berensyah: Banta Berensyah adalah seorang anak laki-laki yatim dan miskin. Ia sangat rajin bekerja dan selalu bersabar dalam menghadapi berbagai hinaan dari pamannya yang bernama Jakub. Berkat kerja keras dan kesabarannya menerima hinaan tersebut, ia berhasil menikah dengan seorang putri raja yang cantik jelita dan dinobatkan menjadi raja. Bagaimana kisahnya? Ikuti cerita Banta Berensyah berikut ini!
* * *
Alkisah, di sebuah dusun terpencil di daerah Nanggro Aceh Darussalam, hiduplah seorang janda bersama seorang anak laki-lakinya yang bernama Banta Berensyah. Banta Berensyah seorang anak yang rajin dan mahir bermain suling. Kedua ibu dan anak itu tinggal di sebuah gubuk bambu yang beratapkan ilalang dan beralaskan dedaunan kering dengan kondisi hampir roboh. Kala hujan turun, air dengan leluasa masuk ke dalamnya. Bangunan gubuk itu benar-benar tidak layak huni lagi. Namun apa hendak dibuat, jangankan biaya untuk memperbaiki gubuk itu, untuk makan sehari-hari pun mereka kesulitan.
Untuk bertahan hidup, ibu dan anak itu menampi sekam di sebuah kincir padi milik saudaranya yang bernama Jakub. Jakub adalah saudagar kaya di dusun itu. Namun, ia terkenal sangat kikir, loba, dan tamak. Segala perbuatannya selalu diperhitungkan untuk mendapatkan keuntungan sendiri. Terkadang ia hanya mengupahi ibu Banta Berensyah dengan segenggam atau dua genggam beras. Beras itu hanya cukup dimakan sehari oleh janda itu bersama anaknya.
Pada suatu hari, janda itu berangkat sendirian ke tempat kincir padi tanpa ditemani Banta Berensyah, karena sedang sakit. Betapa kecewanya ia saat tiba di tempat itu. Tak seorang pun yang menumbuk padi. Dengan begitu, tentu ia tidak dapat menampi sekam dan memperoleh upah beras. Dengan perasaan kecewa dan sedih, perempuan paruh baya itu kembali ke gubuknya. Setibanya di gubuk, ia langsung menghampiri anak semata wayangnya yang sedang terbaring lemas. Wajah anak itu tampak pucat dan tubuhnya menggigil, karena sejak pagi perutnya belum terisi sedikit pun makanan.
 “Ibu…! Banta lapar,” rengek Banta Berensyah.
Janda itu hanya terdiam sambil menatap lembut anaknya. Sebenarnya, hati kecilnya teriris-iris mendengar rengekan putranya itu. Namun, ia tidak bisa berbuat apa-apa, karena tidak ada sama sekali makanan yang tersisa. Hanya ada segelas air putih yang berada di samping anaknya. Dengan perlahan, ia meraih gelas itu dan mengulurkannya ke mulut Banta Berensyah. Seteguk demi seteguk Banta Berensyah meminum air dari gelas itu sebagai pengganti makanan untuk menghilangkan rasa laparnya. Setelah meminum air itu, Banta merasa tubuhnya sedikit mendapat tambahan tenaga. Dengan penuh kasih sayang, ia menatap wajah ibunya. Lalu, perlahan-lahan ia bangkit dari tidurnya seraya mengusap air mata bening yang keluar dari kelopak mata ibunya.
 “Kenapa ibu menangis?” tanya Banta dengan suara pelan.
Mulut perempuan paruh baya itu belum bisa berucap apa-apa. Dengan mata berkaca-kaca, ia hanya menghela nafas panjang. Banta pun menatap lebih dalam ke arah mata ibunya. Sebenarnya, ia mengerti alasan kenapa ibunya menangis.
 “Bu! Banta tahu mengapa Ibu meneteskan air mata. Ibu menangis karena sedih tidak memperoleh upah hari ini,” ungkap Banta.
 “Sudahlah, Bu! Banta tahu, Ibu sudah berusaha keras mencari nafkah agar kita bisa makan. Barangkali nasib baik belum berpihak kepada kita,” bujuknya.
Mendengar ucapan Banta Berensyah, perempuan paruh baya itu tersentak. Ia tidak pernah mengira sebelumnya jika anak semata wayangnya, yang selama ini dianggapnya masih kecil itu, ternyata pikirannya sudah cukup dewasa. Dengan perasaan bahagia, ia merangkul tubuh putranyasambil meneteskan air mata. Perasaan bahagia itu seolah-olah telah menghapus segala kepedihan dan kelelahan batin yang selama ini membebani hidupnya.
 “Banta, Anakku! Ibu bangga sekali mempunyai anak sepertimu. Ibu sangat sayang kepadamu, Anakku,” ucap Ibu Banta dengan perasaan haru.
Kasih sayang dan perhatian ibunya itu benar-benar memberi semangat baru kepada Banta Berensyah. Tubuhnya yang lemas, tiba-tiba kembali bertenaga. Ia kemudian menatap wajah ibunya yang tampak pucat. Ia sadar bahwa saat ini ibunya pasti sedang lapar. Oleh karena itu, ia meminta izin kepada ibunya hendak pergi ke rumah pamannya, Jakub, untuk meminta beras. Namun, ibunya mencegahnya, karena ia telah memahami perangai saudaranya yang kikir itu.
 “Jangan, Anakku! Bukankah kamu tahu sendiri kalau pamanmu itu sangat perhitungan. Ia tentu tidak akan memberimu beras sebelum kamu bekerja,” ujar Ibu Banta.
 “Banta mengerti, Bu! Tapi, apa salahnya jika kita mencobanya dulu. Barangkali paman akan merasa iba melihat keadaan kita,” kata Banta Berensyah.
Berkali-kali ibunya mencegahnya, namun Banta Berensyah tetap bersikeras ingin pergi ke rumah pamannya. Akhirnya, perempuan yang telah melahirkannya itu pun memberi izin. Maka berangkatlah Banta Berensyah ke rumah pamannya. Saat ia masuk ke pekarangan rumah, tiba-tiba terdengar suara keras membentaknya. Suara itu tak lain adalah suara pamannya.
 “Hai, anak orang miskin! Jangan mengemis di sini!” hardik saudagar kaya itu.
 “Paman, kasihanilah kami! Berikanlah kami segenggam beras, kami lapar!” iba Banta Berensyah.
 “Ah, persetan dengan keadaanmu itu. Kalian lapar atau mati sekalian pun, aku tidak perduli!” saudagar itu kembali menghardiknya dengan kata-kata yang lebih kasar lagi.
Betapa kecewa dan sakitnya hati Banta Berensyah. Bukannya beras yang diperoleh dari pamannya, melainkan cacian dan makian. Ia pun pulang ke rumahnya dengan perasaan sedih dan kesal. Tak terasa, air matanya menetes membasahi kedua pipinya.
Dalam perjalanan pulang, Banta Berensyah mendengar kabar dari seorang warga bahwa raja di sebuah negeri yang letaknya tidak berapa jauh dari dusunnya akan mengadakan sayembara. Raja negeri itu mempunyai seorang putri yang cantik jelita nan rupawan. Ia bagaikan bidadari yang menghimpun semua pesona lahir dan batin. Kulitnya sangat halus, putih, dan bersih. Saking putihnya, kulit putri itu seolah-olah tembus pandang. Jika ia menelan makanan, seolah-olah makanan itu tampak lewat ditenggorokannya. Itulah sebabnya ia diberi nama Putri Terus Mata. Setiap pemuda yang melihat kecantikannya pasti akan tergelitik hasratnya untuk mempersuntingnya. Sudah banyak pangeran yang datang meminangnya, namun belum satu pun pinangan yang diterima. Putri Terus Mata akan menerima lamaran bagi siapa saja yang sanggup mencarikannya pakaian yang terbuat dari emas dan suasa.
Mendengar kabar itu, Banta Berensyah timbul keinginannya untuk mengandu untung. Ia berharap dengan menikah dengan sang Putri, hidupnya akan menjadi lebih baik. Siapa tahu ia bernasib baik, pikirnya. Ia pun bergegas pulang ke gubuknya untuk menemui ibunya. Setibanya di gubuk, ia langsung duduk di dekat ibunya. Sambil mendekatkan wajahnya yang sedikit pucat karena lapar, Banta Berensyah menyampaikan perihal hasratnya mengikuti sayembara tersebut kepada ibunya. Ia berusaha membujuk ibunya agar keinginannya dikabulkan.
 “Bu! Banta sangat sayang dan ingin terus hidup di samping ibu. Ibu telah berusaha memberikan yang terbaik untuk Banta. Kini Banta hampir beranjak dewasa. Saatnya Banta harus bekerja keras memberikan yang terbaik untuk Ibu. Jika Ibu merestui niat tulus ini, izinkanlah Banta merantau untuk mengubah nasib hidup kita!” pinta Banta Berensyah.
Perempuan paruh baya itu tak mampu lagi menyembunyikan kekagumannya kepada anak semata wayangnya itu. Ia pun memeluk erat Banta dengan penuh kasih sayang.
 “Banta, Anakku! Kamu adalah anak yang berbakti kepada orangtua. Jika itu sudah menjadi tekadmu, Ibu mengizinkanmu walaupun dengan berat hati harus berpisah denganmu,” kata perempuan paruh baya itu.
 “Tapi, bagaimana kamu bisa merantau ke negeri lain, Anakku? Apa bekalmu di perjalanan nanti? Jangankan untuk ongkos kapal dan bekal, untuk makan sehari-hari pun kita tidak punya,” tambahnya.
 “Ibu tidak perlu memikirkan masalah itu. Cukup doa dan restu Ibu menyertai Banta,” kata Banta Berensyah.
Setelah mendapat restu dari ibunya, Banta Berensyah pun pergi ke sebuah tempat yang sepi untuk memohon petunjuk kepada Tuhan Yang Mahakuasa. Setelah semalam suntuk berdoa dengan penuh khusyuk, akhirnya ia pun mendapat petunjuk agar membawa sehelai daun talas dan suling miliknya ke perantauan. Daun talas itu akan ia gunakan untuk mengarungi laut luas menuju ke tempat yang akan ditujunya. Sedangkan suling itu akan ia gunakan untuk menghibur para tukang tenun untuk membayar biaya kain emas dan suasa yang dia perlukan.
Keesokan harinya, usai berpamitan kepada ibunya, Banta Berensyah pun pergi ke rumah pamannya, Jakub. Ia bermaksud meminta tumpangan di kapal pamannya yang akan berlayar ke negeri lain. Setibanya di sana, ia kembali dibentak oleh pamannya.
 “Ada apa lagi kamu kemari, hai anak malas!” seru sang Paman.
 “Paman! Bolehkah Ananda ikut berlayar sampai ke tengah laut?” pinta Banta Berensyah.
Jakub tersentak mendengar permintaan aneh dari Banta Berensyah. Ia berpikir bahwa kemanakannya itu akan bunuh diri di tengah laut. Dengan senang hati, ia pun mengizinkannya. Ia merasa hidupnya akan aman jika anak itu telah mati, karena tidak akan lagi datang meminta-minta kepadanya. Akhirnya, Banta Berensyah pun ikut berlayar bersama pamannya. Begitu kapal yang mereka tumpangi tiba di tengah-tengah samudra, Banta meminta kepada pamannya agar menurunkannya dari kapal.
 “Paman! Perjalanan Nanda bersama Paman cukup sampai di sini. Tolong turunkan Nanda dari kapal ini!” pinta Banta Betensyah.
Saudagar kaya itu pun segera memerintahkan anak buahnya untuk menurunkan Banta ke laut. Namun sebelum diturunkan, Banta mengeluarkan lipatan daun talas yang diselempitkan di balik pakaiannya. Kemudian ia membuka lipatan daun talas itu seraya duduk bersila di atasnya. Melihat kelakuan Banta itu, Jakub menertawainya.
 “Ha… ha… ha…! Dasar anak bodoh!” hardik saudagar kaya itu.
 “Pengawal! Turunkan anak ini dari kapal! Biarkan saja dia mati dimakan ikan besar!” serunya.
Namun, betapa terkejutnya saudagar kaya itu dan para anak buahnya setelah menurunkan Banta Berensyah ke laut. Ternyata, sehelai daun talas itu mampu menahan tubuh Banta Berensyah di atas air. Dengan bantuan angin, daun talas itu membawa Banta menuju ke arah barat, sedangkan pamannya berlayar menuju ke arah utara.
Setelah berhari-hari terombang-ambing di atas daun talas dihempas gelombang samudra, Banta Berensyah tiba di sebuah pulau. Saat pertama kali menginjakkan kaki di pulau itu, ia terkagum-kagum menyaksikan pemandangan yang sangat indah dan memesona. Hampir di setiap halaman rumah penduduk terbentang kain tenunan dengan berbagai motif dan warna sedang dijemur. Rupanya, hampir seluruh penduduk di pulau itu adalah tukang tenun.
Banta pun mampir ke salah satu rumah penduduk untuk menanyakan kain emas dan suasa yang sedang dicarinya. Namun, penghuni rumah itu tidak memiliki jenis kain tersebut. Ia pun pindah ke rumah tukang tenun di sebelahnya, dan ternyata si pemilik rumah itu juga tidak memilikinya. Berhari-hari ia berkeliling kampung dan memasuki rumah penduduk satu persatu, namun kain yang dicarinya belum juga ia temukan. Tinggal satu rumah lagi yang belum ia masuki, yaitu rumah kepala kampung yang juga tukang tenun.
 “Tok… Tok… Tok.. ! Permisi, Tuan!” seru Banta Berensyah setelah mengetuk pintu rumah kepala kampung itu.
Beberapa saat kemudian, seorang laki-laki paruh baya membuka pintu dan mempersilahkannya masuk ke dalam rumah.
 “Ada yang bisa kubantu, Anak Muda?” tanya kampung itu bertanya.
Setelah memperkenalkan diri dan menceritakan asal-usulnya, Banta pun menyampaikan maksud kedatangannya.
 “Maaf, Tuan! Kedatangan saya kemari ingin mencari kain tenun yang terbuat dari emas dan suasa. Jika Tuan memilikinya, bolehkah saya membelinya?” pinta Banta Berensyah.
Kepala kampung itu tersentak kaget mendengar permintaan Banta, apalagi setelah melihat penampilan Banta yang sangat sederhana itu.
 “Hai, Banta! Dengan apa kamu bisa membayar kain emas dan suasa itu? Apakah kamu mempunyai uang yang cukup untuk membayarnya?”
 “Maaf, Tuan! Saya memang tidak mampu membayarnya dengan uang. Tapi, jika Tuan berkenan, bolehkah saya membayarnya dengan lagu?” pinta Banta Berensyah seraya mengeluarkan sulingnya.
Melihat keteguhan hati Banta Berensyah hendak memiliki kain tenun tersebut, kepala kampung itu kembali bertanya kepadanya.
 “Banta! Kalau boleh saya tahu, kenapa kamu sangat menginginkan kain itu?”
Banta pun menceritakan alasannya sehingga ia harus berjuang untuk mendapatkan kain tersebut. Karena iba mendengar cerita Banta, akhirnya kepala kampung itu memenuhi permintaannya. Dengan keahliannya, Banta pun memainkan sulingnya dengan lagu-lagu yang merdu. Kepala kampung itu benar-benar terbuai menikmati senandung lagu yang dibawakan Banta. Setelah puas menikmatinya, ia pun memberikan kain emas dan suasa miliknya kepada Banta.
 “Kamu sangat mahir bermain suling, Banta! Kamu pantas mendapatkan kain emas dan suasa ini,” ujar kepala kampung itu.
 “Terima kasih, Tuan! Banta sangat berhutang budi kepada Tuan. Banta akan selalu mengingat semua kebaikan hati Tuan,” kata Banta.
Setelah mendapatkan kain emas dan suasa tersebut, Banta pun meninggalkan pulau itu. Ia berlayar mengarungi lautan luas menuju ke kampung halamannya dengan menggunakan daun talas saktinya. Hati anak muda itu sangat gembira. Ia tidak sabar lagi ingin menyampaikan berita gembira itu kepada ibunya dan segera mempersembahkan kain emas dan suasa itu kepada Putri Terus Mata.
Namun, nasib malang menimpa Banta. Ketika sampai di tengah laut, ia bertemu dan ikut dengan kapal Jakub yang baru saja pulang berlayar dari negeri lain. Saat ia berada di atas kapal itu, kain emas dan suasa yang diperolehnya dengan susah payah dirampas oleh Jakub. Setelah kainnya dirampas, ia dibuang ke laut. Dengan perasaan bangga, Jakub membawa pulang kain tersebut untuk mempersunting Putri Terus Mata.
Sementara itu, Banta yang hanyut terbawa arus gelombang laut terdampar di sebuah pantai dan ditemukan oleh sepasang suami-istri yang sedang mencari kerang. Sepasang suami-istri itu pun membawanya pulang dan mengangkatnya sebagai anak. Setelah beberapa lama tinggal bersama kedua orang tua angkatnya tersebut, Banta pun memohon diri untuk kembali ke kampung halamannya menemui ibunya dengan menggunakan daun talas saktinya. Setiba di gubuknya, ia pun disambut oleh ibunya dengan perasaan suka-cita. Kemudian, Banta pun menceritakan semua kejadian yang telah dialaminya.
 “Maafkan Banta, Bu! Sebenarnya Banta telah berhasil mendapatkan kain emas dan suasa itu, tetapi Paman Jakub merampasnya,” Banta bercerita kepada ibunya dengan perasaan kecewa.
 “Sudahlah, Anakku! Ibu mengerti perasaanmu. Barangkali belum nasibmu mempersunting putri raja,” ujar Ibunya.
 “Tapi, Bu! Banta harus mendapatkan kembali kain emas dan suasa itu dari Paman. Kain itu milik Banta,” kata Banta dengan tekad keras.
 “Semuanya sudah terlambat, Anakku!” sahut ibunya.
 “Apa maksud Ibu berkata begitu?” tanya Banta penasaran.
 “Ketahuilah, Anakku! Pamanmu memang sungguh beruntung. Saat ini, pesta perkawinannya dengan putri raja sedang dilangsungkan di istana,” ungkap ibunya.
Tanpa berpikir panjang, Banta segera berpamitan kepada ibunya lalu bergegas menuju ke tempat pesta itu dilaksanakan. Namun, setibanya di kerumunan pesta yang berlangsung meriah itu, Banta tidak dapat berbuat apa-apa. Ia tidak mempunyai bukti untuk menunjukkan kepada raja dan sang Putri bahwa kain emas dan suasa yang dipersembahkan Jakub itu adalah miliknya. Sejenak, ia menengadahkan kedua tangannya berdoa meminta pertolongan kepada Tuhan Yang Mahakuasa. Begitu ia selesai berdoa, tiba-tiba datanglah seekor burung elang terbang berputar-putar di atas keramaian pesta sambil berbunyi.
 “Klik.. klik… klik… kain emas dan suasa itu milik Banta Berensyah…!!! Klik… klik.. klik… kain emas dan suasa itu milik Banta Berensyah…!!!” demikian bunyi elang itu berulang-ulang.
Mendengar bunyi elang itu, seisi istana menjadi gempar. Suasana pesta yang meriah itu seketika menjadi hening. Bunyi elang itu pun semakin jelas terdengar. Akhirnya, Raja dan Putri Terus Mata menyadari bahwa Jakub adalah orang serakah yang telah merampas milik orang lain. Sementara itu Jakub yang sedang di pelaminan mulai gelisah dan wajahnya pucat. Karena tidak tahan lagi menahan rasa malu dan takut mendapat hukuman dari Raja, Jakub melarikan diri melalui jendela. Namun, saat akan meloncat, kakinya tersandung di jendela sehingga ia pun jatuh tersungkur ke tanah hingga tewas seketika.
Setelah peristiwa itu, Banta Berensyah pun dinikahkan dengan Putri Terus Mata. Pesta pernikahan mereka dilangsungkan selama tujuh hari tujuh malam dengan sangat meriah. Tidak berapa lama setelah mereka menikah, Raja yang merasa dirinya sudah tua menyerahkan jabatannya kepada Banta Berensyah. Banta Berensyah pun mengajak ibunya untuk tinggal bersamanya di istana. Akhirnya, mereka pun hidup berbahagia bersama seluruh keluarga istana.
* * *
Demikian cerita dongeng Banta Berensyah dari daerah Nanggroe Aceh Darussalam, Indonesia. Sedikitnya ada dua pelajaran penting yang dapat dipetik dari kisah di atas. Pertama, orang yang senantiasa berusaha dan bekerja keras, pada akhirnya akan memperoleh keberhasilan. Sebagaimana ditunjukkan oleh perilaku Banta Berensyah, berkat kerja keras dan kesabarannya, ia berhasil mempersunting putri raja dan menjadi seorang raja. Dikatakan dalam tunjuk ajar Melayu:
    wahai ananda cahaya mata,
    rajin dan tekun dalam bekerja
    penat dan letih usah dikira
    supaya kelak hidupmu sejahtera
Pelajaran kedua yang dapat dipetik dari cerita di atas adalah bahwa orang kaya yang kikir dan serakah seperti Jakub, pada akhirnya akan mendapat balasan yang setimpal. Ia tewas akibat keserakahannya. Dikatakan dalam tunjuk ajar Melayu:
    apa tanda orang tamak,
    karena harta marwah tercampak

contoh Laporan

LAPORAN KUNJUNGAN PAMERAN
OLEH :
PURWANI RAMADHANI WULANSARI
10560





 \




SMA N 1 SLEMAN
2011/2012

LAPORAN KUNJUNGAN PAMERAN
OLEH :
PURWANI RAMADHANI WULANSARI
10560












SMA N 1 SLEMAN
2011/2012


I
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan laporan Kunjungan Pameran Seni Rupa Murni kelas XII angkatan 2011-2012 dengan baik dan lancar.
Kami menyadari setiap karya “Tak ada gading yang tak retak” dan kami juga menyadari bahwa laporan ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kami mengharap kritik dan saran yang membangun. Semoga karya tulis ini dapat bermanfaat bagi kita semua, khususnya para pembaca yang kami harapkan dapat memberi kritik dan saran kepada kami guna melengkapi kekurangan-kekurangan dalam isi maupun penulisan karya tulis ini.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

                                                                                                   Penyusun



II
ISI
A.    PAMERAN TUNGGAL
Pameran tunggal Irwanto Lentho yang berjudul “Sang Pencukil
tanggal 5 Agustus 2011
Bentara Budaya Yogyakarta
Jl Suroto 2 Kotabaru Yogyakarta 55224
Nama      : Irwanto Letho
Alamat     : Ngewotan RT.07/RW.24 No.252 Kasihan Bantul Yogyakarta. 55182
Lahir        : Sukoharjo, 4 April 1979
Profesi      : -
Alumni    : Indonesian Instituteof Arts (ISI) Yogyakarta fakultas visual art.
Pengalaman berpameran :
·         Graphic Art Final Work, Solo Exhibition “Sang Pencukil” di Bentara Budaya Jakarta, Yogyakarta, Bali dan Solo (2011)
·         Graphic Art Final Work, Solo Exhibition “HUT ke-1 Seni Grafis Absurd” di Bentara Budaya Yogyakarta (2006)
·         Graphic Art Final Work, Solo Exibitionm “Respon Masalah Sosial Politik”, ISI Yogyakarta (2005)
·         Dual Printmaking “circus The Greates Show on Art” , Slogan Gallery Singapura (2011)
·         Bazaar Art Andi’s Gallery, Grand Indonesia Shopping town , Jakarta (2010)
·         “BOHEMIAN CARNIVAL”, Gallery Nasional Jakarta(2009)
·         “Indonesian Today”, Linda Gallery Singapura (2009)
·         “HOPING SIANG HO”, Galleri Biasa Yogyakarta (2008)
·         “Jogja Art Fair”, Taman Budaya Yogyakarta(2008)
·         “Golden Box”, Jogja Galleri Yogyakarta(2008)
·         “Jumpa Malioboro 2”, Musium Mpu Tantular Surabaya(2007)
·         “Jogja Printmaking”, Taman budaya Yogyakarta (2007)
·         “Yang Eror”, Gate Café Yogyakarta(2006)
·         Fine Art “Amal Forum Kpedulian Jogja”, Taman Budaya Yogyakarta(2006)
·         “JogjaKU Ruwet”,Hotel Meria Purosani Yogyakarta(2005)
·         Graphic Art Exhibition “Olala”, Indigo Galleri Jakarta(2005)
·         Instalasi “Seni Bermain Jerami” Warsawa Yogyakarta(2004)
·         Instalasi Pratisara Affandi, FSR ISI Yogyakarta(2004)
·         “Environmental”, Kali Winongo Yogyakarta(2003)
·         Graphic Art Exhibition “I Love You Emak” Sukoharjo(2003)
·         “Ruang Ekspresi”,Gedung Gradika Bhakti Praja Pasuruhan(2002)
·         FKY XIII, Benteng Vredeburg Yogyakarta (2001)
·         Graphic Art Exhibition and workshop fakultas Teknik UGM (2001)
·         Graphic Art Exhibition and workshop fakultas Teknik UII (2001)
·         GESPER, Galeri ISI Yogyakarta(2000)
·         Performance Art “Wayang Air”, Taman Raden Saleh Semarang(2000)
·         Graphic Art Exhibition “Hitam-Putih”, Kukuruyug. ISI Yogyakarta (1999)
·         Graphic Art Exhibition “Sanggar Generasi Bangsa”, Sukoharjo(1998)
·         Graphic Art Exhibition “Sanggar Seni Klitah-Klitih”, Sukoharjo (1997)
Prestasi/Penghargaan :
·         Finalis Philip Moris ART AWARD 2001
·         Finalis Trienal Seni Grafis II Indonesia 2006
·         2 Winner of Graphic Trienal III Indonesia 2009
·         Nominee Indonesia Art Award 2010
Titik tolak penciptaan karya :
Ingin membuat karya yang berkesan heroic dan romantic
Inspirasi melukis dari mana ? :
Irwanto Letho terinspirasi dari para seniornya terdahulu yang pernah mengajarkan tentang militansi seni rupa kepadanya.
Media :
Hardboardcut on canvas (90 cm x 120 cm)
Teknik :
Mengeksplorasikan teknik Printmaking ( cukilan kayu atau wood cut,relief print, etsa)
Alat :
Stencil, pointilis, tinta, cat minyak, baren, botol, sendok

B.     Pameran “PASAR ILANG KUMANDHANGE-MLETHO”
Tanggal    = 20 – 25 September 2011
Tempat     = Bentara Budaya Yogyakarta, Jl Suroto 2 Kotabaru Yogyakarta 55224

1.      Azhar Horo
TTL                 : Boyolali, 27 Februari 1976
            Alamat                        : Gg. Rahmat, RW X, Suryodiningratan, MJ  II/705,
Yogyakarta
Email               : pidhibedhi@yahoo.com
No. Telp          : 081578770379
Pendidikan      : Lulusan Seni Lukis, Fakultas Seni Rupa, ISI Yogyakarta

Aktivitas Pameran :
-          Pameran Tunggal :
2011          Pameran “Explosive Contemporary”, Galeri Apik, Jakarta
2010          Pameran “Highland vs Underground”, Parkir Art Space, Yogyakarta-Solo
-          Pameran Bersama :
2011          Pameran “Homo Ludens#2”, Emmitan Contemporary Art Gallery, Surabaya
Pameran “Bazaart Art Jakarta”, Ritz Carlton-Passific Place, Jakarta
Pameran “Bayang”, Pameran seni islam kontemporer, Galeri Nasional, Jakarta
Pameran “ARTJOG#11”, Taman Budaya Yogyakarta
2010          Pameran “ARTJOG: Indonesia Art Now: The Strategies of Being”, Taman Budaya, Yogyakarta
Pameran Seni Rupa “Artpreneurship : Space and Image”, Ciputra World Marketing Gallery, Jakarta
Pameran “Soccer Fever”, Galeri Canna, Jakarta
Pameran Bersama “The Harper’s Bazaar Art”, The Ritz Carlton. Jakarta
Pameran “Asia Top Gallery Hotel Art Fair (AHAF)”, The Shilla Hotel, Seoul, Korea Selatan
Pameran “Affordable Art Fair (AAF)”, F1 Pit Building, Singapura
2009          Pameran Kelompok Greget’95 “Realitas 3 (Ketik REG Manjoer)”, Sangkring Art Space, Yogyakarta
Pameran “JAF : Spacing Contemporary”, Taman Budaya, Yogyakarta
Pameran “Ulang Tahun ke-70 Dr. Oei Hong Djien’s Collection”, Jogja Gallery, Yogyakarta
Pameran “C Arts Magazine Show”, Plaza Indonesia, Jakarta
Pameran “In Rainbow”, Esa Sampoerna Art House, Surabaya
Pameran “Aussie-Peduli Kasih”, Senaya City, Jakarta
Pameran “Jogja Biennale X:JOGJA JAMMING”, Sangkring Art Space, Yogyakarta
Penghargaan :
1999    Lima besar terbaik, The Winsor-Newton World-Wide Millenium Painting Competition
1998    Sepuluh besar terbaik, Indonesian Art Award 1998
1997    Penghargaan lukis terbaik dari Program Studi Seni Murni ISI Yogyakarta

Konsep Karya :
Seperti halnya pasar lukisan, semua yang bernama pasar selalu identik dengan hiruk-pikuk, suara bising, dan bahkan bau-bau khas dagangannya. Kesunyian dan keheningan hanya terjadi ketika malam dan ditinggalkan para pelaku pasar. Apa yang terjadi bila siang-siang selanjutnya menjadi seperti ketika malam. Aku masih ingin mendengarkan hiruk-pikuk pasar yang membuat hidup ini semakin manusiawi dan bergairah.
Media : Cat minyak di kanvas (180 x 70 cm)

2.      Budi “Bodhonk” Prakoso
TTL                 : Sleman, 26 November 1972
            Alamat                        : Dayu, Jl. Kaliurang km 8,5 Yogyakarta
Email               : ubikayu26@yahoo.com
No. Telp          : 0817266378- (0274) 886090
Pendidikan      : 2003 – Seni Lukis, ISI Yogyakarta

Aktivitas Pameran :
2011          Pameran “Drawing dan peluncuran Something Wrong”, Jogja National Museum
Pameran “Uprising Detik96”, Taman Budaya Yogyakarta
Pameran “Arts Leberation Front#2”, Taman Budaya Yogyakarta
Pameran Kelompok Sanggar Suwung, “Menembus Batas”, Bentara Budaya Yogyakarta
Pameran “The Art of Motorcycle: Tribute To Nur Kholis”, Taman Budaya Yogyakarta
2010          Pameran “Art Liberation Front”, Galeri Biasa, Yogyakarta
Pameran “Power Wagon”, Jogja National Museum, Yogyakarta
Pameran “Jakarta Art Award”, North Art Space, Jakarta
2009          Pameran “I Report, I Decide”, Tujuh Bintang Art Space, Yogyakarta
Pameran “Kunduran Truk”, Kersan Art Studio, Yogyakarta
Pameran “Bordeless Word”, 2nd Anniversary Srisasanti Gallery, Taman Budaya Yogyakarta
Pameran “Refleks Warna”, Jogja National Museum, Yogyakarta
Pameran “Instalasi Biennale Jogja X”, Taman Budaya Yogyakarta
Pameran “Memoart Indonesia”, Galeri Arslonga, Yogyakarta

Penghargaan :
2010    Nominator JakartaArt Award
2006    Nominator Festival Kartun Internasional,Knokke-Heist, Belgia
1998    Nominator Phillip Morris Award

 KonsepKarya :
Sebuah fragmen yang sangat ironis sering kita saksikan di televisi. Dimana salah satu stasiun televisi menayangkan iklan-iklan yang menawarkan segala jenis apartemen maupun hunian modern dan super mewah dengan segala fasilitasnya yang mampu memanjakan siapa saja yang memilikinya. Namun seiring dengan itu di stasiun tv lainnya muncul berita yang menayangkan proses penggusuran besar-besaran oleh aparat-aparat kota yang seolah bagai rayap-rayap yang kelaparan memakan semua banguna yang dihuni masyarakat-masyarakat urban yang dengan alasan tanah tersebut tanah negara, untuk lahan hijau, untuk di bangun mall baru atau bahkan tanah tersebut kemudian akan dibangun apartemen-apartemen baru.
Media : Akrilik di atas Kanvas ( 200 x 150 cm)

3.      Budiyonaf
TTL                 : Banyuwangi, 08 Juli 1977
            Alamat                        : Jl. Margorukun No. 435 Krapyak RT 04/17 Sidoarum, Godean,
Sleman, Yogyakarta
Email               : byonaf@yahoo.co.id
No. Telp          : 085643320790

Aktivitas Pameran :
-          Pameran Tunggal :
2008          Pameran “Neng-Nang” di Bentara Budaya Yogyakarta
-          Pameran Bersama :
2011          Pameran Seni Rupa “Re-Gold” Persatuan Paguyuban, Taman Budaya Yogyakarta
Pameran Lukisan “Invasion in Fashion”, Go Art Space, Surabaya
2010          Pameran Seni Rupa “Matahari”, Taman Budaya Yogyakarta
Pameran “International Painting Competition”, Jakarta Art Award, Jakarta
Pameran “Reflection Of Megacities” 2010, Ancol, Jakarta
Pameran “Umbul-Umbul Blambangan”, Filadelvia Art Gallery, Surabaya
Pameran “Jogja Gumregah! Jogja Bangkit”, Jogja National Museum, Yogyakarta
2009          Pameran “I Report, I Decide” Tujuh Bintang Art Space, Yogyakarta
Pameran “Up & Hope”, D’Peak Art Space, Jakarta
Pameran Lukisan “Tanda Mata VII”, Bentara Budaya Yogyakarta

Penghargaan :
2010    Finalis International Painting Competition Jakarta Art Award 2010
2008    Finalis Kompetisi Seni Lukis Nasional Jakarta Art Awards 2008
            Karya berjudul “Imajiner” menjadi poster seni Majalah LARAS edisi Oktober 2008
2005    Grand Opening Muri Gallery, Borobudur Internasional Open Air Gallery II
1997    Prathita Adi Karya, Sekolah Menengah Seni Rupa Yogyakarta
Konsep Karya :
Manusia di karuniai banyak sifat maka dari itulah dikatakan makhluk paling sempurna. Namun seiring dengan perubahan waktu (cokromanggilingan) hati banyak tergantikan oleh logika. Hal ini tidak lepas dari pengaruh kebudayaan global. Manusia bisa lebih buas dan kejam melebihi hewan yang paling kejam sekalipun, disebabkan oleh sifat/nafsu manusia alamiah itu sendiri untuk menguasai makhluk-makhluk lain, karena merasa dia adalah yang paling superior.
Media : Cat minyak di kanvas (140 x 100)

4.      Harri Gita Setiadi
TTL                 : Pariaman, 9 Desember 1984
            Alamat                        : Dn Prancak Glondong, RT06, N). 30 B, Panggungharjo,
Sewon,Bantul
Email               : harri_gs@yahoo.com
Facebook         : harri_gs@yahoo.com
No. Telp          : 081385967135
Pendidikan      : Seni Lukis, Fakultas Seni Rupa, ISI Yogyakarta

Aktivitas Pameran :
2011    Pameran “Survey #3 : For Whom The Bell Tolls”, Edwin’s Gallery, Jakarta
Pameran “Holistik Plaudis”, Bentara Budaya, Yogyakarta
2010    Pameran “Art Towards Global Competition” bersama langgeng Gallery, Galeri ISI Yogyakarta
Pameran “Reuni Akbar”, SSRI/SMSR/SMK N 4 Padang, Taman Budaya Padang
Pameran “One Gallery Anniversary Exhibition”, One Gallery, Jakarta
Pameran “Bakaba”, Komunitas Seni Sakato, Jogja National Museum, Yogyakarta
2009    Pameran “Minang Academic Of Art”, Taman Budaya Padang, Sumatera Barat
Pameran Kelompok GARIS 2005”Menthok About Love”, Sangkring Art Space, Yogyakarta
2008    Pameran “Hoping Siang Ho”, Galeri Biasa, Yogyakarta
Pameran “Dedication to the Future”,Academic Art Award #2, Neka Art Museum, Bali
Pameran “Family Life”, Taman Budaya. Yogyakarta
Pameran Kelompok GARIS 2005 “MetamorfosArt”, Galeri Biasa, Yogyakarta
Pameran “Seiring Sejalan”, Denindo Art House, Jakarta
Pameran “Kaba Rang Rantau”, EGO Galeri, Jakarta
Konsep Karya :
Melalui karya ini berusaha memahami –pasar- sebagai interaksi jual-beli dimana, harga diri, moral, sampai idealismee sekalipun telah menjadi sesuatu yang dikemas sedemikian rupa, sehingga semua mempunyai nilai ekomonis dan layak diperdagangkan.
Media : Akrilik di atas kanvas ( 140 x 60 x 50 cm )

5.      Hayatudin
TTL                 : Lampung, 17 Juni 1972
            Alamat                        : Nitiprayan RT01RW20 No 49b Kasihan Bantul Yogyakarta
Jl. Pesisir Canti Rt.02 Rw.02 No.41 kec.Kalianda Lampung Selatan
Email               : lisakalien@yahoo.com
No. Telp          : 081578082661
Pendidikan      : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Aktivitas Pameran :
-          Pameran Tunggal :
2009          Pameran “Kota Tanpa Nama”, Gallery Semarang
2006          Pameran “Survivor”, Bentara Budaya, Yogyakarta
-          Pameran Bersama :
2011          Pameran “Membikinnya Abadi: Ulang Tahun 70th Goenawan Mohamad”, Semarang Gallery
Pameran Bersama Bank Mandiri, Surabaya
2010          Pameran “Transfiguration”, Jakarta Art Distric, Jakarta
Pameran “Inventory”, Pesantren Kali Opak, Yogyakarta
Pameran “ART JOG 10”, Taman Budaya Yogyakarta
Pameran “Ilustrasi Cerpen”, Salihara Gallery, Jakarta
Pameran “Semarang Gallery”, Jakarta Art District, Grand Indonesia, Jakarta
Pameran “Lesbumi : Inventory”, Pesantren Kali Opak, Yogyakarta
Pameran “Transfiguration”, Semarang Gallery, Semarang
Pameran “Traversing”, Salihara Gallery, Jakarta
2009          Pameran “Biennale Jogja X: Jogja Jamming”, Taman Budaya
Yogyakarta
Pameran Kelompok Greget 95 “Ketik Reg Manjoer”, Sangkring Art Space, Yogyakarta
Pameran “Refleksi Ruang dan Waktu”, V Art Gallery, Yogyakarta
Pameran “Reborn”, H2 Gallery, Semarang
Pameran “The Topology of Flatness Die”, Edwin Gallery, Jakarta

Penghargaan :
2006    Karya Terbaik Jakarta Art Awards
2005    Lima Besar Philip Morris ASEAN Award
2004    Karya Terbaik Lustrum ISI Yogyakarta IV
2003    Karya Terbaik Indofood Art Awards
2000    Jurors Choise ASEAN Art Awards Singapura
1999    YSSRI Philip Morris
                        Affandi Prize
1997    YSSRI            Philip Morris
1996    Lukis Cat Akrilik Terbaik Program Studi Seni Murni, Fakultas Seni Rupa, ISI Yogyakarta
1995    Sketsa Terbaik di Program Seni Murni, Fakultas Seni Rupa, ISI Yogyakarta
Konsep Karya :
Kehadiran pasar modern di tengah-tengah pasar tradisional ibarat perang tak seimbang David dan Goliath Kedigjayaan pasar tradisional yang tumbuh bersahaja bersama masyarakatnya bisa dipastikan akan lenyap satu persatu.
Media : Mixed media di atas kanvas ( 200 x 180 cm)
III
OPINI PENULIS
Ø  Kesan :
Dalam setiap pameran yang menampilkan hasil karya sangat bagus-bagus dan mengandung banyak sekali pesan yang tergambar dalam setiap hasil karya. Banyak memberikan berbagai pengetahuan tentang seni khususnya bagi diri saya pribadi.
Ø  Pesan :
Untuk setiap pameran yang ditampilkan saya harap lebih lengkap katalognya. Karena untuk memenuhi laporan tugas yang diberikan sangat sulit, terlebih untuk informasi tentang teknik yang digunakan oleh setiap perupa.


IV
KESIMPULAN
Dalam setiap pameran yang ada dan yang sudah saya kunjungi semuanya menampilkan / memamerkan hasil karya yang bagus dan menarik dari setiap perupa. Pada masing-masing pameran menampilkan dengan tema yang berbeda-beda, misalnya saja pameran bersama di Bentara Budaya Yogyakarta dengan tema tentang pasar tradhisional yang mulai tergantikan dengan pasar modern (swalayan).
            Setiap gambar yang dihasilkan mengandung nilai moral dan nilai keindahan yang ditampilkan/ ditunjukkan oleh perupa. Dan pameran yang saya kunjungi sangat membantu saya dalam menyelesaikan tugas yang di berikan oleh guru mata pelajaran seni budaya.